Gua Maria Bunda Pemersatu, Paroki Jumapolo

Gua Maria Bunda Pemersatu, Paroki Jumapolo
Gua Maria Bunda Pemersatu, Paroki Jumapolo

Dari Misi Menjadi Mandiri

Tahun ini , 25 Juni, Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) tepat berusia 70 tahun sebagai Keuskupan Agung. Keterlibatan umat selama perjalanan sejarah KAS sangatlah penting. Namun masih banyak pula umat yang belum mengerti tentang sejarah perjalanan KAS. Tak kenal maka tak saying, demikian peribahasa berkata. Kiranya lintasan singkat sejarah KAS berikut semakin membuka umat KAS untuk semakin mencintai Gereja.
Perjalanan Keuskupan Agung Semarang tak bisa dipisahkan dari peristiwa tahun-tahun sebelumnya. Undang-undang kebebasan beragama yang diberikan oleh Raja Lodewijk Napoleon (7/08) tahun 1806 merupakan peristiwa berarti bagi Gereja Katolik. Kebijakan tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan Gereja di Hindia Belanda (Nusantara).
Setahun kemudian menjadi lembaran baru dalam sejarah Gereja, yaitu ketika wilayah Hindia Belanda menjadi satu kesatuan dengan status Prefektur Apostolik Batavia (sebutan untuk keuskupan di daerah misi). Dua imam praja dari Belanda segera ke Jakarta sebagai miionaris pertama (4/04) di tahun 1808. Pastor Jacobus Nelissen menjadi pemimpin misi pertama yang meliputi seluruh Nusantara. Dan 31 imam praja lain pun mengikuti jejak Pastor Jacobus, termasuk Pastor CJH Franssen yang ditugaskan di Ambarawa.
Kekuatan misi di Nusantara juga mendapat dukungan dari serikat Yesus (SY). Dua imamnya diutus di tahun 1859. Selanjutnya menyusul  57 iman Jesuit, terlebih  ketika hanya dua imam praja yang bertahan.
Tahun 1842 Prefektur Apostolik Batavia ditingkatkan statusnya menjadi Vikariat ( sebutan keuskupan agung di daerah misi). Vikariat Apostolik Batavia meliputi 8 stasi: Batavia, Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantaka, Maumere dan Padang, di tahun 1866.
Baptisan Pribumi
Awal abad IX misi di Hindia Belanda mulai menampakkan buahnya. Seorang guru agama bersama empat kepala dusun dari pegunungan wilayah Kalibawang menemui Rm van Lith. Empat orang dibaptis pada 20 Mei 1904. Menyusul kemudian, 171 orang dibaptis oleh Rm van Lith pada Desember 1904 di Sendangsono. Peristiwa tersebut di luar dugaan Rm van Lith. Mgr Luypen menafsirkan bahwa peristiwa pembaptisan tersebut sebagai tanda yang jelas bahwa metode Rm van Lith menghasilkan buah.
Sementara itu pada 27 Mei 1899, Rm Hoevenaars SJ, teman seperjalanan Rm van Lith dari Eropa ditugaskan di Mendut. Ia langsung mengarahkan misinya pada rakyat kelas bawah. Ia berhasil juga. Enam puluh dua orang Jawa dibaptis. Pada akhir 1903 jumlah orang Katolik di stasi Mendut sekitar 300 orang.
Beberapa tahun setelah itu Rm Hovenaars ditugaskan di Surakarta. Metode Rm van Lith, ia terapkan dalam misi di Surakarta. Dan benar, di wilayah sekitar Surakarta dan Yogyakarta terbukti menjadi tanah subur bagi benih-benih firman Allah. Sampai sekarang meyoritas umat Katolik KAS ada di wilayah tersebut, meskipun keratin Surakarta dan Yogyakarta begitu berpengaruh dan nilai budaya tradisional telah berakar mendalam hati dan sikap hidup masyarakat.
Iman Katolik bukanlah ancaman bagi bertumbuhnya nilai-nilai budaya Jawa. Karena itulah, proses inkulturasi, yang dirintis oleh Rm van Lith, begitu mengutamakan bahasa Jawa. Bahasa tidaklah sekedar sarana komunikasi, tetapi juga kristalisasi jiwa masyarakat dalam memandang dunia dan manusia secara khas Jawa.
Di Muntilan, Rm van Lith adalah pastor pertama yang dapat berkomunikasi dengan masyarakat Jawa dan dalam bahasa Jawa. Ia menerjemahkan doa Bapa Kami dalam bahasa Jawa.
Peristiwa sangat penting di KAS adalah berdirinya Seminari Menengah. Ada tiga seminaris dari 6 generasi pertama (1911-1914) yang ditahbiskan menjadi imam pada 1926 dan 1928. Mereka ialah Rm FX Satiman SJ, A Djajasepoetra SJ dan Alb Soegijapranata SJ.
Karya misi di KAS memperoleh dukungan pula dari Tarekat Bruder FIC. Lima Bruder Belanda pertama datang di Yogyakarta, September 1920. Mereka langsung mengajar di HIS. Setelah itu para Bruder melebarkan sayap di Muntilan (1921), Surakarta (1926), Ambarawa (1928) dan Semarang (1934).
Perkembangan misi selanjutnya tak hanya seputar ‘altar’. Para awam pun terlibat aktif melalui organisasi massa dan politik. Rm Strater mendirikan Perhimpunan Wanita Katolik pada 9 September 1923. Begitu pula pada Agustus 1923 Partai Politik Katolik dideklarasikan. Ini menjadi bukti perkembangan Gereja dan keberanian orang-orang Katolik di Yogyakarta.
Menjadi Gereja Mandiri
Melihat kondisi geografis dan kultur yang berbeda antara Jawa Barat/Batavia dan Jawa Tengah, dan demi perkembangnya Gereja, maka berdasarkan Constituio Apostolica Vetus de Batavia tertanggal 25 juni 1940, Paus Pius XII mendirikan Vikariat Apostolik Semarang. Paus Pius XII menunjuk kan Rm Albertus Soegijapranata SJ menjadi Vikaris Aportolik. Ia menjadi uskup pribumi Indonesia pertama. Sebagai uskup I KAS, ia wafat pada 1963. Ia dimakamkan di makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang sebagai Tokoh Nasional.
Dalam perjalanan selanjutnya Gereja Katolik di Indonesia merasa sudah dewasa. Untuk itu perlu di perlakukan seperti Gereja Katolik di Negara lain yang iman Katoliknya sudah mengakar, bukan sebagai daerah misi lagi. Seiring dengan perkembangannya iman Katolik semakin mengakar di bumi pertiwi dan semakin dewasa. Karenanya, dalam siding di Girisonta, 6-16 Mei 1960, Wali Gereja Indonesia (KWI waktu itu) membahas Hirarki Gereja di Indonesia. Keputusannya ditandatangani oleh seluruh Waligereja Indonesia pada tanggal 12 Mei 1960 dikirim kpada Paus Yohanes XXIII di Roma. Mereka memohon agar secara resmi Sri Paus mendirikan Hirarki Gereja di Indonesia.
Melalui dekrit “Quod Christus” (3 Januari 1961) Sri Paus memandang bahwa Gereja Katolik Indonesia sudah dapat mandiri dan perlu mendirikan Hirarki Gereja di Indonesia. Dengan adanya hirarki, istilah Vikariat dan Prefektur Apostolik berubah menjadi Keuskupan Agung dan Keuskupan.
Mgr Justinus Darmojuwono Pr, Uskup kedua (1964-1981), diangkat menjadi Kardinal pertama di Indonesia (26 Juni 1967). Untuk mendukung supaya karya pastoral semakin berbuah, pada tahun 1967 Kardinal mendirikan 4 Vikariat Episkopalis (Vikep), yaitu Semarang, Kedu, Surakarta dan Yogyakarta. Bapak Kardinal wafat pada 3 Februari, dan dimakamkan di Makam Muntilan.
Mgr Julius Darmaatmadja SJ, uskup pribumi ke-3 KAS (1984-1996) mengembangkan karya pastoral berdasarkan Arah Dasar Keuskupan untuk periode lima tahunan (1984-1990; 1990-1995; 1996-2000). Ia pun diangkat menjadi Kardinal ke-2 di Indonesia. Setelah 12 tahun sebagai uskup KAS, Paus memindahtugaskan ke Jakarta sebagai Uskup Agung Jakarta.
Karya pastoral dengan mengumat Arah Dasar KAS dikembangkan pula oleh Mgr Ign Suharyo Pr (1997-2009) untuk periode 2001-2005. Terinspirasi Konsili Vatikan II, Mgr Suharyo mendorong Gereja Katolik untuk mewujudkan diri sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban yang hidup; tempat orang-orang beriman menghayati Gereja sebagai peristiwa iman.
Kini sejak baptisan pertama di Sendangsono hingga awal tahun 2010, umat Keuskupan Agung Semarang mencapai sekitar 400.000 jiwa dan tersebar di 93 paroki (data Sekretariat Keuskupan). (Sumber: majalah Salam Damai ed.03/Vol.02/06.10)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar